Cara Berkomunikasi Berdasarkan Mekanisme Pikiran Manusia
Bunda tau ga, kalau pikiran manusia selalu memproses informasi yang dominan. Maksudnya, pikiran manusia tidak mengenal kata "tidak", "jangan", atau apapun kalimat "negatif".
Seandainya bunda saya suruh membayangkan buah apel, apa yang ada dipikiran bunda? Gambar buah apel, kan?
Nah, sekarang bunda saya suruh "jangan membayangkan apel", apa yang terjadi? Gambar apel tetap muncul dipikiran bunda, kan? Padahal saya sudah menginstruksikan larangan kepada bunda.
Itulah sifat pikiran, dia tidak bisa menerima kalimat negatif untuk diproses dalam pikiran. Inilah maksud dari pikiran hanya memproses informasi yang bersifat dominan.
Nah, bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak? Banyak menggunakan larangan dan kemudian dilanggar? Apakah itu yang Bunda mau? Ga kan ya? Jadi, kini Bunda sudah tahu bagaimana menggunakan aturan berkomunikasi, bukan? Memang sangat susah untuk mempraktekkannya, karena kebiasaan kita terhadap anak, jangan ini, jangan itu,,,ga boleh ini ga boleh itu,,,,
Tapi kalau kita terapkan dan jadikan kebiasaan, rubah cara kita berkomunikasi dengan anak, saya yakin kita semua akan terbiasa. Saya juga lagi nerapin nih, Bunda, awalnya emang susaaaah banget, tapi lama-lama terbiasa juga untuk tidak memakai larangan dalam setiap komunikasi dengan anak. Dan,,,magic!! It works!! Perubahanpun tampak berangsur-angsur, ga ada lagi deh muka masam anak karena dilarang ini-itu. Misalnya nih: Anakmau keluar sama temen-temennya, daripada bilang: "kamu ga boleh pulang malam, atau kamu jangan malam pulangnya, nanti ini,,,itu,,ini,,,itu,,," sebaiknya diganti dengan: "sayang, kamu harus pulang jam 7 malam ya"
Contohnya lagi: "kamu tidak boleh lupa mengerjakan pe-er sekolah" sebaiknya katakan: "sayang, pe-er sekolah dikerjain ya." Kalaupun anak bilang "iya, entar" atau "iya, tapi kan,,,," ga apa apa Bunda, asalkan Bunda beri time limit dan jangan bosen ngingeti, ga boleh pake emosi ya kalau mau anaknya nurut,,,,.
Jadi, kali ini kita hanya perlu mengubah cara kita berkomunikasi dengan anak kita, hanya 4 pola komunikasi yang perlu kita ubah, dan kuncinya adalah praktekkan.
Semoga informasi kali ini bermanfaat bagi kita semua.
Bunda tau ga, kalau pikiran manusia selalu memproses informasi yang dominan. Maksudnya, pikiran manusia tidak mengenal kata "tidak", "jangan", atau apapun kalimat "negatif".
Seandainya bunda saya suruh membayangkan buah apel, apa yang ada dipikiran bunda? Gambar buah apel, kan?
Nah, sekarang bunda saya suruh "jangan membayangkan apel", apa yang terjadi? Gambar apel tetap muncul dipikiran bunda, kan? Padahal saya sudah menginstruksikan larangan kepada bunda.
Itulah sifat pikiran, dia tidak bisa menerima kalimat negatif untuk diproses dalam pikiran. Inilah maksud dari pikiran hanya memproses informasi yang bersifat dominan.
Nah, bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak? Banyak menggunakan larangan dan kemudian dilanggar? Apakah itu yang Bunda mau? Ga kan ya? Jadi, kini Bunda sudah tahu bagaimana menggunakan aturan berkomunikasi, bukan? Memang sangat susah untuk mempraktekkannya, karena kebiasaan kita terhadap anak, jangan ini, jangan itu,,,ga boleh ini ga boleh itu,,,,
Tapi kalau kita terapkan dan jadikan kebiasaan, rubah cara kita berkomunikasi dengan anak, saya yakin kita semua akan terbiasa. Saya juga lagi nerapin nih, Bunda, awalnya emang susaaaah banget, tapi lama-lama terbiasa juga untuk tidak memakai larangan dalam setiap komunikasi dengan anak. Dan,,,magic!! It works!! Perubahanpun tampak berangsur-angsur, ga ada lagi deh muka masam anak karena dilarang ini-itu. Misalnya nih: Anakmau keluar sama temen-temennya, daripada bilang: "kamu ga boleh pulang malam, atau kamu jangan malam pulangnya, nanti ini,,,itu,,ini,,,itu,,," sebaiknya diganti dengan: "sayang, kamu harus pulang jam 7 malam ya"
Contohnya lagi: "kamu tidak boleh lupa mengerjakan pe-er sekolah" sebaiknya katakan: "sayang, pe-er sekolah dikerjain ya." Kalaupun anak bilang "iya, entar" atau "iya, tapi kan,,,," ga apa apa Bunda, asalkan Bunda beri time limit dan jangan bosen ngingeti, ga boleh pake emosi ya kalau mau anaknya nurut,,,,.
Jadi, kali ini kita hanya perlu mengubah cara kita berkomunikasi dengan anak kita, hanya 4 pola komunikasi yang perlu kita ubah, dan kuncinya adalah praktekkan.
Semoga informasi kali ini bermanfaat bagi kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar